SULITNYA MEMANAJEMEN WAKTU DIAWAL PERKUALIAHAN
Nama: Muhammad Jihad Bisma Ghani
Kelompok: 15 BRAINSTEM
SULITNYA MEMANAJEMEN WAKTU DIAWAL PERKULIAHAN
Sebagai mahasiswa di semester pertama, saat periode awal perkuliahan adalah waktu yang sulit untuk penyesuaian. Lingkungan yang berbeda, kenalan baru, metode belajar yang tidak sama, hingga tekanan tugas yang terkadang datang dengan cepat. Di tengah semua itu, saya menghadapi sebuah tantangan yang cukup mengganggu, yaitu kesulitan dalam mengatur waktu antara kuliah, organisasi, dan kegiatan pribadi. Meskipun tampaknya ini adalah masalah umum bagi mahasiswa baru, pengalaman tersebut sangat mempengaruhi rutinitas saya, baik dari segi akademis maupun emosional.
Tantangan: Kesulitan dalam Pengaturan Waktu
Masalah ini mulai muncul sekitar sebulan setelah perkuliahan dimulai. Pada awalnya, saya merasa semuanya masih dalam kontrol. Jadwal kuliah belum terlalu padat dan saya masih dalam tahap penyesuaian sehingga belum ada banyak tugas besar yang harus diselesaikan. Namun, seiring berjalannya waktu, jadwal mulai semakin penuh. Para dosen mulai memberikan tugas mingguan, laporan, presentasi, dan beberapa kuis mendadak.
Dalam waktu yang bersamaan, saya juga mulai terlibat dalam salah satu organisasi UKM karena ingin mendapatkan pengalaman baru. Masalah yang muncul adalah saya tidak memperkirakan bahwa kegiatan di organisasi ternyata jauh lebih menyita waktu daripada yang saya bayangkan. Terdapat rapat, persiapan acara, sesi brainstorming, hingga kegiatan di luar ruangan. Akibatnya, waktu belajar saya menjadi terhambat, waktu istirahat berkurang, dan tugas kuliah mulai menumpuk.
Pada akhirnya, saya merasa tertekan. Beberapa tugas harus saya kerjakan mendekati batas waktu, kualitas pekerjaan menurun, dan saya sering kali merasa kelelahan meskipun baru menjalani semester pertama. Dari situ, saya menyadari bahwa saya memang menghadapi masalah dalam mengelola waktu.
Identifikasi Penyebab Masalah
Setelah melakukan refleksi, saya menyadari ada beberapa faktor utama yang memicu timbulnya masalah ini. Ternyata, inti persoalannya bukan hanya sekadar sibuk, tetapi juga terkait pola perilaku saya yang kurang tepat.
1. Tidak Memiliki Rencana Harian yang Jelas
Saya menjalani hari-hari tanpa adanya perencanaan yang jelas. Saya hanya bergantung pada ingatan untuk mengetahui tugas-tugas apa yang harus diselesaikan. Sayangnya, pendekatan ini tidak berhasil saat beban tugas mulai menumpuk. Akibatnya, beberapa aktivitas terlewatkan, beberapa tugas mendekati tenggat waktu, dan saya sering merasa dikejar-kejar waktu.
2. Mengambil Terlalu Banyak Kegiatan
Sebagai mahasiswa baru, saya merasa bersemangat untuk mencoba berbagai hal. Tanpa berpikir mendalam, saya langsung mendaftar pada berbagai organisasi dan mengikuti banyak aktivitas. Padahal, saya belum sepenuhnya siap untuk itu. Saya tidak memikirkan bahwa setiap kegiatan memerlukan pengorbanan waktu dan energi yang signifikan.
3. Rentan Terdistraksi dan Kurang Disiplin
Ketika sudah berniat untuk belajar, saya seringkali tergoda untuk membuka media sosial, menonton video pendek, atau sekadar berbaring sejenak. Masalahnya, sejenak itu bisa berubah menjadi satu jam. Tanpa sadar, kemampuan fokus saya berkurang dan produktivitas menurun. Akhirnya, tugas menumpuk dan harus diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat.
Tiga Cara Mengatasi Masalah
Setelah memahami akar masalah, saya mulai merumuskan solusi untuk memperbaiki keadaan. Meskipun tidak mudah, saya secara bertahap mulai belajar cara mengatur waktu dengan lebih efektif. Berikut adalah tiga metode yang paling efektif menurut saya pribadi:
1. Merancang Jadwal Harian dan Mingguan
Tahap pertama yang saya lakukan adalah menyusun rencana yang rinci. Setiap malam sebelum tidur, saya menuliskan aktivitas yang perlu dilakukan keesokan harinya. Saya pun membuat daftar prioritas: mana yang esensial dan harus diselesaikan terlebih dahulu, serta mana yang masih bisa ditunda. Selain itu, setiap minggunya, saya membuat gambaran umum terkait tugas kuliah dan kegiatan organisasi.
Dengan cara ini, saya tidak lagi bekerja secara sembarangan. Segalanya menjadi lebih teratur dan rapi. Saya juga bisa mengidentifikasi waktu yang kosong dan waktu yang padat, sehingga energi saya dapat dikelola dengan lebih baik.
2. Mengurangi Aktivitas yang Tidak Penting
Saya mulai lebih selektif dalam memilih kegiatan. Jika sebelumnya saya gampang tergoda untuk ikut berbagai aktivitas, sekarang saya belajar untuk menolak saat jadwal saya sudah padat. Saya memusatkan perhatian pada kuliah sebagai prioritas utama, sementara kegiatan organisasi berfungsi sebagai pelengkap yang tetap saya jalani dengan proporsional.
Dengan mengurangi jumlah kegiatan, waktu saya menjadi lebih seimbang. Saya memiliki kesempatan untuk belajar dengan lebih tenang, mendapatkan istirahat yang cukup, dan tetap aktif tanpa merasa kewalahan.
3. Mengembangkan Disiplin dan Mengurangi Gangguan
Saya menyadari bahwa manajemen waktu bukan hanya sekadar soal jadwal, tetapi juga mengenai disiplin dalam melaksanakan jadwal tersebut. Sekarang, ketika saatnya belajar, saya secara sadar membatasi penggunaan ponsel. Saya meletakkan ponsel agak jauh, mengaktifkan mode senyap, atau menerapkan teknik "Pomodoro" untuk menjaga fokus.
Awalnya terasa sulit, tetapi setelah terbiasa, produktivitas saya meningkat. Tugas-tugas selesai lebih cepat, dan saya tidak lagi harus lembur untuk memenuhi tenggat waktu.
Komentar
Posting Komentar